Monday, March 16, 2009

Relakan cinta untuk pergi


"Brraak..". Suara pintu yang terdengar sangat keras."Hery,,,kenapa sih kamu?". Tanya ibuku yang terkejut."Aku ga apa-apa". Jawabkku malas. "Dasar, semua cewek tu sama aja", gerutuku lirih sambil memebenamkan tubuhku di tempat tidur.Hari ini valentine, hari kasih sayang. hari dimana semua orang saling memberi perwujudan kasih sayang mereka pada orang yang disayangi. Namun kecuali aku tentunya, orang yang kusayang telah pergi meninggalkan aku. "Hey,,,nglamun aja", sapa Aris yang membangunkanku dari lamunan."Eh,,,ga ketemuan ma cewek yang kemarin lagi?""Cewek yang mana?", dengan malas aku menanggapi pertanyaan temanku yang satu ini. Aris adalah bestfriendku di kampus. Dia anaknya baik dan selalu care padaku, meski kadang terlalu sok tau sih."Halah,,siapa namanya? Tya, iya Tya", selidiknya. "Kalian masih berhubungan kan?".Aku kaget dengan pertanyaan Aris namun, aku langsung bisa menguasai keadaan."Kemarin tu pertemuan yang terakhir!", dengan memasang tampang lesu."Maksudmu?", tanya Aris dengan raut muka yang serius."Kemarin itu,,,temu pisah kita berdua...", jawabku sambil meninggalkan temenku itu masuk kelas tanpa memberikan dia kesempatan untuk bertanya lagi.Semua kata-kata dosen seakan hanya angin lalu buatku. Semuanya terasa berjalan begitu lambat."Semua telah berakhir", gumamku. Malam ini aku berusaha menyenangkan diriku sendiri dengan melakukan rutinitas kesukaanku, chatting. Chattingtelah menjadi hobi dadakanku selama ini. Sebenarnya aku itu termasuk orang yang GAPTEK, yang aku tau tentang fungsi dari warnet hanya email dan chatting. Tapi justru dengan chattinglah aku bisa melupakan sejenak semua masalah yang ada di sekitarku. Namanya Lia, dia Kerja disebuah Biro jasa di jakarta. Aku telah mengenalnya kurang lebih enam bulan, itupun karena dikenalkan oleh temanku. Dia anaknya baik, supel, dan yang pasti murah senyum, mungkin itu yang membuatku tetep nyaman chatting sama dia."Mlm say....", aku mencoba memulai dulu pembicaraan chatting kami. Aku dan Lia sudah sangat akrab, jadi kami biasa menggunakan kata-kata yang cukup mesra dalam setiap percakapan kami."Mlm jg say,,,dah lama ya?", dia menjawab dari komputer di rumahnya yang berada sangat jauh dari jawa. Mungkin inilah salah satu bukti kecanggihan teknologi yang diciptakan oleh manusia."Ga kok, baru aja"."Gimana kabarnya?", aku menanyakan kalimat tanya yang biasa digunakan untuk mengungkapkan kepedulian dan perhatian pada orang lain. Tapi sebenarnya aku memang peduli dengan Lia."Kabarku baik2 aja"."Kamu ndiri say, kabarmu gimana?""Selalu baik", jawabku singkat.Percakapan malam ini sangat seru seperti malam-malam sebelumnya. Namun ada satu hal penting yang kudapat dari chattingku kali ini dengan Lia. Dia akan pulang dua bulan lagi. Aku tidak tau apa yang aku rasakan kali ini, tapi yang pasti aku sangat senang dengan hanya mendengar kabar itu. Hari-hari berikutnya hanya kulewati sendiri, dan merasa semua menjadi mudah. Kabar baik yang kudengar kemarin ternyata telah menjadi doping buatku. Aku merasa hidupku mempunyai harapan lagi, sebuah harapan baru. Setiap malampun aku tetap menjalani rutinitas chattingku, malah sekarang aku menjadi tambah semangat setiap kali menjalaninya, sekarang hanya nama itu yang selalu aku ingat. Semakin hari aku semakin merindukannya. Aku mulai merasakan panah-panah kecil cupid secara perlahan tapi pasti mulai tertancap di hatiku."Mungkinkah aku telah jatuh cinta padanya?", selalu pertanyaan yang sama kulontarkan pada diriku sendiri. 26 januari 2009, pagi ini terlihat sangat cerah. Awan terlihat sangat putih namun hanya terlihat seperti sekumpulan kapas-kapas yang begitu indah. Pagi ini aku bangun agak siang, karena hari inipun memang hari libur. Aku meraih handphone di sebelahku. Sebelumnya aku memang merasakan banyak sekali getaran yang ditimbulkan oleh handphoneku, entah SMS atau telfon, tapi secara tidak langsung itu semua mengganggu kenyamanan tidurku. Dengan malas, aku mulai membuka empat pesan yang telah masuk di daftar inbox handphonku. Tiga dari empat pesan datang dari temanku yang tidak terlalu penting, namun pesan yang terakhir tidak ada nama pengirimnya, hanya tertera nomomrnya saja.Semua terasa berhenti sejenak. Seseorang yang selama ini hanya menjadi temanku di dunia maya, yang diam-diam kukagumi kepribadiannya, telah tiba di rumah. Lia telah tiba di jawa."Say aku dah dirumah, jawa! kamu dimana?kapan kita ketemuan? Lia". Pesan singkat yang benar-benar singkat dari Lia malah membuatku berpikir sangat panjang tentangnya. Aku tidak tau harus membalasnya bagaimana."Ah,,,yg bener?kapan dateng?kok ga bilang2?, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri dengan membalas smsnya."Iya bener! aku nyampe kemarin. Maaf jg baru ngasih tau sekarang. Tp kapan kita bisa ketemu? kangen bgt nich...", Lia meyakinkanku yang justru malah membuatku tidak bisa berpikir apa-apa. Semua terasa mimpi, tapi mimpi yang telah menjadi kenyataan."Jam 2 di alun2 kota, kutunggu di sebelah selatan"."Okey,,,ntar klo dah nyampe sms aku ya", balas Lia."Okey.....", jawabku sambil kembali berbaring di tempat tidur membayangkan apa yang baru saja terjadi."Ini semua nyata", gumamku lirih. Aku duduk di kursi yang berada di pojok sebelah selatan taman. Dari sini aku bisa melihat jelas kesemua arah. Semuanya terlihat indah, baik tata taman ataupun para pengunjungnya. Mereka semuya terlihat sangat menikmati suasana di taman ini. Aku sengaja datang lebih awal, karena sebagai cowok itu sudah seharusnya, akupun tidak ingin membuat orang yang kuanggap sangat spesial malah menunggukui.Aku mengisi waktu hanya dengan mendengarkan lagu mp3 dari handphoneku. Dari kejauhan terlihat seorang wanita menuju ke arahku. Dia memakai jaket coklat bergaris dengan kaos bagian dalam berwarna kuning."She is come", Aku langsung mengenalinya.
dari cara tersenyumnya yang tentu saja aku sangat menghafalnya."She is so bright", aku berusaha untuk tetap tenang."Udah lama ya?", sapanya lembut dengan di iringi senyuman yang sanagt manis."Ga, baru aja kok", jawabku sambil bergesr mempersilahkan dia duduk di sampingku.



"Kamu sungguh cantik", gumamku dalam hati. Aku benar-benar tidak kuasa menahan kekagumanku setiap kali melihatnya. Tatapan matanya membuat hatiku terasa sangat sejuk."Kok diem sih?", tanyanya melihat kediamanku. "Apa ada yang salah denganku?, apa aku ga seperti yang kamu bayangin selam ini?"."Cantik, kamu cantik kok", jawabku sejujurnya."Gombal...", jawabnya sambil tetep tertawa manis. Kami melanjutkan pembicaraan kami di kafe langggananku di utara taman. Kami merasa butuh tempat yang lebih rileks dan nyaman. Aku memilih tempat duduk di teras karena menurutku tempat itu yang paling nyaman dan romantis. Aku dan Lia duduk saling berhadapan. Selama ini aku mengagumi Lia hanya sebatas kepribadianya saja, karena memang selama ini kami berhubungan hanya lewat chatting. Tapi sekarang, wanita yang selalu kukagumi dalam hati berada di hadapanku, bersamaku. Seandainya ada kata yang lebih sempurna dari kata sempurna itu sendiri, aku akan merelakan segalanya hanya untuk mengucapkan padanya. Sungguh tidak salah bila aku mengagumi semua yang ada pada wanita di depanku ini."Hey,,ngapain bengong?hayo,,,mikir jorok ya?, Lia memebuyarkan lamunanku."Ye,,,siapa yan g mikir jorok?, tapi,,,kalo ma kamu kayaknya aku mau dech", aku berusaha mencairkan suasana."Maunya...", timpalnya sambil meninju pundakku. "Tapi say, ternyata kamu lebih manis kalo ngeliat aslinya gini ya?"."Yaiyalah ,,,dari dulu kaleee", jawabku sambil nyengir."Tapi kok itemnya tetep sama ya?, ga berubah", Lia tertawa lepas yang membuat hatiku juga ikut merasa bahagia. Aku bahagia hanya dengan melihat dia tertawa."Tapi,,,kamu juga terlihat beda ya?"."Maksudmu?', tanyanya dengan penuh penasaran."Kamu terlihat lebih kalo gini, lebih cantik, lebih lucu, lebih rame, tapi kok lebih gendut ya?", sontak aku langsung tertawa karena berhasil membalasnya."Biarin gendut, tapi kamu suka kan?""Iya,,iya maaf, kamu cantik kok", rayuku."Halah gombal", sergahnya manja."Lia,,,aku sayang kamu", kata-kataku ini langsung menghentikan tawanya. "Maaf aku mengatakan ini padamu, tapi.....", dengan cepat Llia mendaratkan jari telunjuknya di bibirku yang membuatku tidak bisa melanjutkan kata-kataku."Aku taku kok, aku mengerti perasaanmu", jawabnya yang malah membuatku jadi salah tingkah. "Dah sore, pulang yuk! aku takut pulang kemalaman", seakan ada sesuatu di balik senyum manisnya yang membuatku menjadi benar-benar bingung. "Dah ga usah mikr yang macam-macam", katanya seolah mengerti kebingunganku.Di sepanjang perjalanan pulang aku tidak terlalu memikirkan apa yang ada di balik senyum Lia tadi. Karena menurutku, cinta itu memang penuh denga misteri. Di dalam kamar aku iseng-iseng bermain handphone untuk mengisi kejenuhanku. Aku berusaha mengecek kesigapan dan keberadaan teman-temanku dengan mengirimkan sms kosong pada mereka. Tidak semua temanku senantiasa membalas keisenganku itu dengan senang hati, ada juga yang mengirim sms balasan yang isinya cuma marah-marah karena ulahku. Justru itulah bagian terbaik yang membuatku terhibur. Aku sering tertawa sendiri membaca sms balasan dari teman-temanku itu. Namun, perhatianku terhenti saat aku melihat nama Lia di daftar kontak handphoneku. Nama itu seakan menghipnotisku untuk meluapkan semua emosiku. Dengan reflek aku mengetik sebuah pesan untuknya. Semua yang terlihat mata mungkin hanya sebuah fatamorgana Semua yang terdengar mungkin hanya sebuah kiasan Semuanya mungkin hanya sebuah ilusi Tapi.... Apakah kata hati itu sama? Apakah kata nurani itu salah? Hatiku telah memilihmu Nuraniku telah berpaling padamu Setulusnya hanya kamu Karena cintaku hanya untukmuDengan agak ragu mengirim pesan itu. Aku sama sekali tidak mengharapkan balasan dari Lusy. Di dalam hati aku hanya berharap smsku tidak mengganggunya saja. Namun di dalm hati aku tidak bisa berbohong kalo aku sangat menanti jawaban dari Lia. Aku berusaha memejamkan mataku untuk melupakan kekhawatiranku. Di saat akan terlelap, aku merasa handphonku bergetar. Aku terkejut karena nama pengirimnya adalah Lia. Dengan ragu-ragu aku membuka pesannya. Hati nurani memang ga pernah berdusta Semua keyakinanmu tengtangku memang ga pernah salah Terimakasih telah mencintaiku Namun, mungkin akan ada seseorang yang lebih bahagia mendengarnya "Temui aku di tempat biasa jam 3 sore"Aku semakin tidak mengerti tentang semuanya, namun aku juga tidaaak membalas pesan dari Lia itu. Aku berusaha mamejamkan mataku, berharap tidak ada yang buruk terjadi besuk. Seperti biasa, aku datang lebih awal di tempat yang telah di tunjuk oleh Lia. Aku memilih tempat di mana aku pertama kali datang di tempat ini. Tidak berapa lama wanita yang kutunggu-tunggu datang menghamppiriku."Hai,,,dah lama ya?", sapanya."Baru aj, dari mana?", tanyakui basa-basi."Dari rumah aja". Lia terlihat memaksakan senyumnya. "Aku pengen ketemu kamu sekarang karena ingin nyerahin ini", Lia memberikan sebuah kertas undangan bersampul emas.Jantungku seakan berhenti berdetak saat aku membaca nama di depan surat undangan itu. Di surat itu tertulis nama Lia dan Fharis. Tiada terasa tangankupun menjadi gemetar memegang surat undangan itu hingga undangan itu terjatuh dari genggamanku."Ini semua ga nyata kan?", tanyaku berusaha mencari kepastian kalo surat undangan itu tidak nyata."Ini semua nyata Her, sebenere sebelum aku pulang ke jawa aku telah dijodohkan dan menerimanya"."Apa?, aku seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. "Tapi selama ini....", aku tidak bisa meneruskan kata-kataku sendiri."Dari kemarin aku ga sanggup melihatmu terlalu bahagia karena melihatku, aku ga pengen menyakiti hatimu. Aku sayang kamu her.."."Tapi mengapa kamu tega nglakuin ini semua padaku?". "Tau ga? semua cinta yang kumiliki ini hanya untuk kebahagiaan. Dan bagiku, kebahagiaanku tu cuma kamu. Cuma kamu", tiada tersa air matakupun jatuh tanpa bisa kutahan. "Tapi ternyata, cinta yang ku agung-agungkan selama ini hanya palsu, hanya pengkhianatan"."Maafkan aku Her"."Maaf...?hanya maaf...?", emosikupun naik tanpa bisa kutahan."Iya maafkan aku, aku harap kamu bisa ngerti"."Aku ngerti kok, aku ngerti kenapa kamu nglakuin ini semua. Mungkin kamu menganggapku anak kecil, anak kecil yang belum ngerti apa-apa. Oke,,,mungkin aku terlalu cepat menyatakan cinta padamu, aku terlalu egois. Tapi harus kamu tau, ini semua karena kamu, aku terlalu cinta ma kamu, seluruh bagian hidupku hanya ada ka......"."Plaaakkk...", sebuah tamparan mendarat di pipi kiriku sebelum aku bisa menyelesaikan kata-kataku.



"Aku ga pernah mengaggapmu anak kecil, dan aku ga pernah menyalahkan cintamu padaku". Lia memelankan suaranya,"kamu harus tau, aku juga tersiksa setelah menerima perjodohan itu, aku merasa sangat bersalah padamu", di sela-sela tatapan matanya yang tajam, air matanya mengalir bagai tak terbendung. Melihatnya membuat hatiku bagai teriris. Aku telah menyakitinya."Aku berharap kamu bisa mengerti!", Lia berbalik meninggalkanku sendiri. Dia telah pergi tanpa menoleh lagi padaku. Akupun tak kuasa untuk memenggilnya kembali.Aku membuka kembali surat undangan yang dia berikan padaku tadi. Hatiku semakin hancur. Semua telah jelas, dia akan menikah dengan orang lain.Cinta telah membangkitkanku, memberikan tujuan dalam hidupku. Namun, cinta pulalah yang menghancurkanku. Aku berada di depan sebuah pesta pernikahan yang meriah. Lantunan musik jawa terasa menyentuh perasaan semua orang yang mendengarnya. Dekorasi pestanyapun terlihat begitu megah, didominasi warna kuning tua yang dipadu warna coklat.Meski terlihat kuno dan ketinggalan jaman, namun bagiku ini malah berkesan begitu artistik yang melambangkan keanggunan dan keceriaan.Dengan memantapkan hati aku melangkah memasuki pesta tersebut. Tidak sedikit pasang mata yang melihat penuh tanya padaku. Aku memang bukan anggota keluarga atau kerabat dari kedua mempelai, aku bahkan bukan tetangga mereka.Aku hanya orang asing. Aku bukan siapa-siapa. Namun perasaan ini, perasaan yang bergejolak di dalam hati ini membuatku merasa menjadi bagian dari pesta ini.Aku mengambil tempat duduk di sudut belakang kursi undangan berharap tidak ada yang memperhatikan dan mempedulikanku. Sejenak, aku merasa ada perasaan aneh yang menjalar di seluruh tubuhkui, jantungku berdegup kencang. Semua mata para undangan tertuju pada sudut kiri depan ruangan pesta. Seakan ada medan magnet yang membuatku mengikuti gerakan para undangan yang lain untuk memastikan apa yang terjadi. Semua berubah senyap.Kedua mempelai telah memasuki ruangan pesta dan berjalan menuju pelaminan. Terlilhat wanitanya begitu cantik dan anggun dengan balutan busana pengantin berwarna coklat emas dan kuning, di bagian depannya gemerlap renda manik-manik yang membuatnya semakin terlihat bersinar. Di sampingnya terlihat seorang pria tampan yang memakai jas berwarna coklat yang membuatnya tidak kalah mempesona. Mereka sangat serasi Secara keseluruhan pestanya berlansung sangat meriah. Hanpir tidak ada rintangan yang terjadi, kecuali saat mempelai wanita meneteskan air mata yang membuat semua yang melihatnya heran, kecuali aku tentunya. Saat acara resepsi berlangsung tadi, mata kami sempat bertemu. Kejadian itu berlangsung agak lama yang membuat perasaan kita berdua kembali bergejolak, sehingga air matapun mengalir tiada terasa.Namun kami berdua langsung bisa menguasai keadaan sehingga tidak membuat orang yang melihatnya bertanya-tanya terlalu lama.Setelah acara inti selesai, tibalah acara di mana setiap undangan memberikan selamat pada kedua mempelai sambil memnerikan wejangan-wejangan yang akan menjadi bekal pengantin baru dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Akupun dengan hati yang masih ragu-ragu melangkah menuju mempelai untuk memberikan selamat.Sebenarnya aku tak kuasa menahan perasaanku sendiri untuk melakukanya, namun aku telah membulatkan tekad untuk memberikan selamat padanya meski untuk yang terakhir kalinya. Pertama aku menyalami pengantin pria, aku merasa iri sekaligus bangga padanya karena mampu bersanding dengan wanita yang sangat kucintai. Tanganku bergetar saat akan memegang tangan Lusy, seakan aku tidak mampu mengankat telapak tanganku. Namun, tidak kusangka Lia akan meraih tanganku lebih dulu.Dengan pelan dia mendekatkan wajahnya ketelingaku dan berbisik,"tunggu aku di depan setelah acara ini".Aku tidak menjawab pertanyaannya, hanya memberikan secarik kertas dan menyelipkan di tanganya lalu meninggalkanya keluar. Semakin lama aku berada di dekatnya, semakin aku tidak bisa menahan gejolak perasaan di hatiku. Aku melihat dia berjalan menghampiriku di luar rumahnya. "Makasih dah mau datang", katanya sambil berusaha tersenyum semanis mungkin kepadaku."Iya, sama-sama. Ada apa? kayaknya penting banget?", tanyaku."Aku hanya ingin nyerahin ini saja kok!", dia menyerahkan secarik kertas padaku."Apa ini?", tanyaku lagi."Dah,,,baca aja ndiri, sekali lagi terimakasih", dia berpamitan untuk kembali ke dalam rumah.Dengan perlahan aku membuka kertas itu. Hery, terimakasiih ats kedatanganya ya, maaf aku ga bisa lama menemanimu. Terimakasih telah mencintaiku selama ini. Terinakasih atas semuanya. Aku mohon jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti tuk dapatkan cinta sejatimu. Demi aku... Tetep semangat n senyum ya..... yang selalu mencintaimu LiaAku melipat kembali surat dari Lusy dan berjalan meninggalkan semuanya.Sore ini begitu cerah, kuberharap akan selamanya. "Cintaku memang untuk kebahagiaan, dan kebahagiaan bagiku adalah kamu. Itu semua memang benar adanya. Namun, selama ini aku memang egois. Aku ga seharusnya mementingksn kebahagiaanku sendiri. Aku memang salah, maafkan aku Lia. Kini aku telah mengerti tentang konsep cinta sejati. Selamat tinggal Lia, selamat tinggal cintaku. Semoga bahagia selalu bersamamu.
 

lulu_manies © 2008. Design By: SkinCorner